Home

Profile

Penerbangan

Fast Boat

Transfer Service

Hotel & Villa's

Lombok Rent Car

Sitemap

 

Selamat Datang di Website EO Lombok Travel, Kami Melayani Berbagai Macam Paket Tour ke Lombok dan Pulau Komodo, Rinjani Trekking, Tiket Kapal/Fast Boat Cepat Bali Lombok, Rent Car, Voucher Hotel dan Villa di Lombok dll.!!

 

 

Follow us at :

PULAU LOMBOK

TUJUAN TOUR DI LOMBOK

Tour Alam Lombok

Tour Bahari Lombok

Tour Budaya Lombok

Tour Kerajinan Lombok

Tour Makam Wali Lombok

FESTIVAL BUDAYA LOMBOK

PAKET LOMBOK TOUR SEHARI

PAKET TOUR DI LOMBOK

Lombok Tour 5h/4m

Lombok Tour 4h/2m

Lombok Tour 3h/2m

Lombok Tour 2h/1m

PAKET MEETING DI LOMBOK

PAKET OUTING DI LOMBOK

Paket Outbound 3h/2m

Paket Gathering 3h/2m

Paket Amazing Race 3h/2m

Paket Rafting 4h/3m

PAKET TOUR ISTIMEWA

Paket Honeymoon 4h/3m

Paket Pantai Pink 4h/3m

Paket Snorkeling 4h/3m

Paket Diving 3h/2m

Paket Air Terjun 4h/3m

Paket Gili Nanggu 3h/2m

Paket Main Golf 3h/2m

Paket Ziarah Makam 4h3m

Paket Tirta Yatra 4h/3m

Paket Memancing 3h/2m

Paket P. Kenawa 4h/3m

Paket P. Moyo 3h/2m

PULAU KOMODO

PAKET KOMODO TOUR

Komodo Cruise 6h/5m

Komodo Cruise 4h/3m

Komodo Sailing 5h/4m

Komodo Overland 5h/4m

Komodo Via L. Bajo 4h/3m

Komodo Via L. Bajo 3h/2m

GUNUNG RINJANI 3726 M

PAKET TREKKING RINJANI

Trekking ke Puncak 5h/4m

Trekking ke Danau 5h/4m

Trekking ke Tebing 4h/3m

PHOTO GALLERY

LINK KE KAMI

PARTNER LINK

SYARAT & KETENTUAN

CARA PEMBAYARAN

HUBUNGI KAMI

 

Payment:

 
 

 

Valid CSS!

SITE NETWORK

Lombok Travel Information

Komodo Travel Information

Rinjani Trekking Information

Paket Wisata ke Lombok

Kapal Cepat  Information

Lombok Rental Car

 

 

 

AGAMA WETU TELU DI LOMBOK

Selamat datang di EO. Lombok Travel, kami menawarkan informasi lengkap tentang cerita agama wetu telu di Lombok dengan detail dibawah ini :

 

Hal yang menarik dari pemeluk agama Islam di kalangan orang Sasak di Lombok adalah adanya dua golongan yaitu Islam Watu/Wektu/waktu Telu (Tiga) dan Islam Watu/Wektu/waktu Lima. Pemeluk Islam Watu/Wektu Telu diabstraksikan sebagai orang-orang Sasak yang tidak menjalankan ajaran Islam secara utuh sebagaimana diamanatkan dalam Al-Qur’an dan Hadist. Sedangkan pemeluk Islam Waktu Lima adalah orang-orang Sasak yang melaksanakan ajaran Islam secara utuh.

Menurut beberapa sumber disebutkan bahwa ketidakutuhan yang dimaksudkan antara lain: (a) pemeluk Islam Watu/Wektu/waktu Telu tidak melaksanakan rukun Islam (syahadat, sembahyang, puasa, zakat, Haji) secara utuh melainkan hanya tiga rukun saja yakni syahadat, sembahyang dan puasa. Tiga rukun itu pun tidak juga dilaksanakan secara utuh. Syahadat sebagai sumpah atau komitmen bahwa Allah adalah satu dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya hanya diucapkan pada saat upacara perkawinan yakni oleh mempelai laki-laki dengan tuntunan kyai atau penghulu. Dalam hal sembahyang hanya melaksakan tiga rukun sembahyang yaitu pada hari Jumat, pada hari Lebaran (Lebaran Haji/Idul Adha) dan Lebaran Puasa/Idul Fitri), dan pada saat orang meninggal. Sembahyang Jumat pun bukan sembahyang lima waktu (Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isa) melainkan hanya tiga waktu saja yakni Ashar, Magrib, dan Isa. Kewajiban sembahyang hanya dilaksanakan oleh para pemimpin agamanya yaitu Kyai sedangkan pengikutnya hanya menjalankan perintah dari Kyai. Sebagai imbalan, para pengikutnya memberikan zakat fitrah dan sedekah kepada para Kyai pada hari-hari tertentu. Jabatan Kyai ini bersifat turun-temurun. Pengangkatannya dilakukan di Mesjid dengan sebuah upacara yang dihadiri oleh semua pengikutnya.

Di Sembalun (Lombok Timur bagian Utara), pengangkatan Kyai baru melalui pentasbihan oleh seorang pemangku dengan cara menyiramkan air yang diambil dari Danau Segara Anak. Jumlah Kyai dalam satu desa lebih dari tiga orang, tergantung pada banyaknya jumlah penduduk. Di antara Kyai-kyai itu, ada seorang Pengulu yang diangkat berdasarkan kesepakatan bersama. Pengulu itu bertugas memimpin upacara agama dan upacara adat di mesjid maupun di luar mesjid antara lain: upacara ngurisang, khitanan, kematian, pertanian, metulak, ngayu-ayu atau neda, dan lain-lain. Sebagaimana telah disinggung juga di atas, diantara jabatan Pengulu dan kiyai sebagai pemimpin agama, juga terdapat jabatan Pemangku. Tugas Pemangku berhubungan dengan pemujaan roh nenek moyang. Di samping itu Pemangku juga bertugas memelihara tempat-tempat suci, seperti pedewa’ atau kemali’. Tidak jarang seorang Pemangku juga berprofesi sebagai dukun (bahasa Sasak: belian).

Dalam hal puasa, pemeluk Islam Watu/Wektu/waktu Telu tidak melaksakan ibadah puasa selama sebulan penuh melainkan hanya puasa tiga hari saja yakni pada saat permulaan bulan puasa, pada saat pertengahan bulan puasa, dan pada penghujung bulan puasa (Ramadan/Lebaran). Di samping ajaran-ajaran yang bersumber kepada Islam seperti disebutkan di atas, pemeluk Islam Watu/Wektu/waktu Telu juga menganut kepercayaan yang bersumber dari pra Islam yaitu pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang. Gunung Rinjani dianggap sebagai gunung yang suci tempat bersemayamnya para dewa dan roh-roh nenek moyang. Di Gunung Rinjani terdapat sebuah danau yang disebut danau Segara Anak. Air danau itu diyakini sebagai air yang suci dan dapat memberi berkah bagi kehidupan umat manusia. Oleh karena itu disimpulkan bahwa Agama IslamWatu/ Waktu/waktu Telu di Lombok merupakan perpaduan antara agama pra Islam, baik animisme/dinamisme, budhisme, maupun Hinduisme, dengan ajaran Islam sehingga menimbulkan ajaran baru yaitu Islam Watu/Wektu/waktu Telu yang oleh pemeluk Islam Watu/Wektu/waktu Lima dikatakan menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya (Tawalinuddin Haris, 1978: 9-10; Monografi NTB, 1977: 80; Erni Budiwanti, 2000: 133-134).

 

Wetu Telu (bahasa Indonesia : Waktu Tiga) adalah praktik unik sebagian masyarakat suku Sasak yang mendiami pulau Lombok dalam menjalankan agama Islam. Ditengarai bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam di masa lampau, yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak pada waktu itu secara bertahap, meninggalkan pulau Lombok sebelum mengajarkan ajaran Islam dengan lengkap. Saat ini para penganut Wetu Telu sudah sangat berkurang, dan hanya terbatas pada generasi-generasi tua di daerah tertentu, sebagai akibat gencarnya para pendakwah Islam dalam usahanya meluruskan praktik tersebut.

Sejarah
Sebelum masuknya Islam, masyarakat yang mendiami pulau Lombok berturut-turut menganut kepercayaan animisme, dinamisme kemudian Hindu. Islam pertama kali masuk melalui para wali dari pulau Jawa yakni sunan Prapen pada sekitar abad XVI, setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Bahasa pengantar yang digunakan para penyebar tersebut adalah bahasa Jawa Kuno. Dalam menyampaikan ajaran Islam, para wali tersebut tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama masyarakat yang masih menganut kepercayaan lamanya. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dengan budaya masyarakat setempat, karena para penyebar tersebut memanfaatkan adat-istiadat setempat untuk mempermudah penyampaian Islam. Kitab-kitab ajaran agama pada masa itu ditulis ulang dalam bahasa Jawa Kuno. Bahkan syahadat bagi para penganut Wetu Telu dilengkapi dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno. Pada masa itu, yang diwajibkan untuk melakukan peribadatan adalah para pemangku adat atau kiai saja.

 

Photo Masyarakat Wetu Telu di Lombok

 


Dalam disampaikan dugaan bahwa praktik tersebut bertahan karena para wali yang menyebarkan Islam pertama kali tersebut, tidak sempat menyelesaikan ajarannya, sehingga masyarakat waktu itu terjebak pada masa peralihan. Para murid yang ditinggalkan tidak memiliki keberanian untuk mengubah praktik pada masa peralihan tersebut ke arah praktik Islam yang lengkap. Hal itulah salah satu penyebab masih dapat ditemukannya penganut Wetu Telu di masa modern.

Dalam masyarakat lombok yang awam menyebut kepercayaan ini dengan sebutan "Waktu Telu" sebagai akulturasi dari ajaran islam dan sisa kepercayaan lama yakni animisme,dinamisme,dan kerpercayaan Hindu.Selain itu karena penganut kepercayaan ini tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya (dikenal dengan sebutan "Waktu Lima" karena menjalankan kewajiban salat Lima Waktu).Yang wajib menjalankan ibadah-ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kiai atau pemangku adat (Sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang). Kegiatan apapun yang berhubungan dengan daur hidup (kematian,kelahiran,penyembelihan hewan,selamatan dsb) harus diketahui oleh kiai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari upacara-upacara tersebut sebagai ucapan terima kasih dari tuan rumah.

Lokasi
Lokasi yang terkenal dengan praktik Wetu Telu di Lombok adalah daerah Bayan, yang terletak di Kabupaten Lombok Barat. Pada lokasi ini masih dapat ditemukan masjid yang digunakan oleh para penganut Wetu Telu. Ada juga sebuah tempat yang digunakan oleh umat berbagai agama untuk berdoa.Namanya "Kemaliq" yang artinya tabu,suci dan sakral.terletak di desa Lingsar Kabupaten Lombok Barat yang setiap tahun mengadakan sebuah upacara adat yang bernama "Upacara Pujawali Dan Perang Topat" sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang diberikan Tuhan YME pada umat manusia.

 

 

-o0o-
 

 

     
     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LOMBOK TRAVEL ONLINE ( LTO Tours )

Jl. Raya Senggigi Km. 12 Desa Senggigi Kec. Batu Layar

 Mataram -  Lombok Barat - NTB - Indonesia

Telpon / Fax : 0370-640380 - 693950

 HP/SMS/WA : +62(0)81.237.812.222 - 081.998.998.777 (24 Jam Online)

Website : http://www.lombok-travel.com

Email: lomboktravel@gmail.com

Copyright © 2007,  Hak cipta di lindungi Undang Undang | LTO Tours