Home

Profile

Penerbangan

Fast Boat

Transfer Service

Hotel & Villa's

Lombok Rent Car

Sitemap

 

Selamat Datang di Website EO Lombok Travel, Kami Melayani Berbagai Macam Paket Tour ke Lombok dan Pulau Komodo, Rinjani Trekking, Tiket Kapal/Fast Boat Cepat Bali Lombok, Rent Car, Voucher Hotel dan Villa di Lombok dll.!!

 

 

Follow us at :

PULAU LOMBOK

TUJUAN TOUR DI LOMBOK

Tour Alam Lombok

Tour Bahari Lombok

Tour Budaya Lombok

Tour Kerajinan Lombok

Tour Makam Wali Lombok

FESTIVAL BUDAYA LOMBOK

PAKET LOMBOK TOUR SEHARI

PAKET TOUR DI LOMBOK

Lombok Tour 5h/4m

Lombok Tour 4h/2m

Lombok Tour 3h/2m

Lombok Tour 2h/1m

PAKET MEETING DI LOMBOK

PAKET OUTING DI LOMBOK

Paket Outbound 3h/2m

Paket Gathering 3h/2m

Paket Amazing Race 3h/2m

Paket Rafting 4h/3m

PAKET TOUR ISTIMEWA

Paket Honeymoon 4h/3m

Paket Pantai Pink 4h/3m

Paket Snorkeling 4h/3m

Paket Diving 3h/2m

Paket Air Terjun 4h/3m

Paket Gili Nanggu 3h/2m

Paket Main Golf 3h/2m

Paket Ziarah Makam 4h3m

Paket Tirta Yatra 4h/3m

Paket Memancing 3h/2m

Paket P. Kenawa 4h/3m

Paket P. Moyo 3h/2m

PULAU KOMODO

PAKET KOMODO TOUR

Komodo Cruise 6h/5m

Komodo Cruise 4h/3m

Komodo Sailing 5h/4m

Komodo Overland 5h/4m

Komodo Via L. Bajo 4h/3m

Komodo Via L. Bajo 3h/2m

GUNUNG RINJANI 3726 M

PAKET TREKKING RINJANI

Trekking ke Puncak 5h/4m

Trekking ke Danau 5h/4m

Trekking ke Tebing 4h/3m

PHOTO GALLERY

LINK KE KAMI

PARTNER LINK

SYARAT & KETENTUAN

CARA PEMBAYARAN

HUBUNGI KAMI

 

Payment:

 
 

 

Valid CSS!

SITE NETWORK

Lombok Travel Information

Komodo Travel Information

Rinjani Trekking Information

Paket Wisata ke Lombok

Kapal Cepat  Information

Lombok Rental Car

 

 

 

TOUR ZIARAH MAKAM WALI DI LOMBOK

 

Selamat datang di EO. Lombok Travel, Kami menawarkan informasi lengkap tentang tujuan tour ziarah makam wali di Lombok sebagai berikut :

 

1. Makam Keramat Batu Layar

 

Selain masjid Kuno Bayan Beleq, makam Selaparang dan Loang Baloq yang sering menjadi tujuan wisata religi, Lombok masih menyimpan destinasi lainnya yang serupa yakni makam Batu Layar yang menurut kepercayaan setempat menjadi makam keturunan Nabi Muhammad SAW. Ada juga yang mengatakan bahwa makam tersebut merupakan tempat peristirahatan tokoh Islam berkebangsaan Baghdad bernama Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami.

Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami dipercaya sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam di Indonesia. Beberapa publikasi yang lain menyebut nama tokoh Baghdad yang datang bernama Syeh Syayid Muhammad Al Bagdadi. Entah mana yang benar namun alkisah ia datang ke Lombok untuk melakukan syiar agama. Setelah agama Islam sempurna, ia ingin kembali ke negara asalnya. Saat akan pulang ia diantar ke pinggir pantai Batu Layar oleh para muridnya. Setelah tiba di pinggir pantai, ia duduk diatas batu yang menyerupai sebuah batu. Tak seberapa lama datanglah hujan lebat disertai dengan angin dan peting. Pada saat itulah Syeh Sayid menghilang dan yang tertinggal hanyalah seonggok batu tersebut. Cerita itu pun kemudian melahirkan kisah bahwa yang dimakamkan di makam Batu Layar bukanlah jasad Syeh Sayid namun kopiah dan sorban yang ia tinggalkan.

 
Makam Keramat Batu Layar



Itu sebabnya mengapa makam ini disebut sebagai malam keramat dan sering digunakan sebagai tempat untuk membayar nazar. Yang dimaksud nazar adalah janji yang biasanya diucapkan oleh seseorang sebagai bentuk permohonan jika maksudnya terkabul. Beberapa nazar yang sering diungkapkan oleh para peziarah makam Batu Layar adalah nazar akan berziarah ke makam ini jika keinginan mereka berangkat haji atau umroh tercapai. Itu mengapa saat menjelang musim haji, makam Batu Layar ramai dikunjungi mereka yang akan berangkat ke tanah suci. Kabarnya, tak cuma wisatawan dari Lombok saja yang mengunjungi makam Batu Layar, tetapi juga wisatawan dari luar pulau.

Makam Batu Layar mencapai puncak ramai saat perayaan lebaran topat, yakni lebaran yang diselenggarakan tepat 7 hari setelah Idul Fitri. Lebaran topat bahkan sudah menjadi kegiatan rutin yang diselengarakan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Diawali dengan tradisi Nyangkar oleh Wakil Bupati Lombok. Dalam tradisi Nyangkar terdapat prosesi pengambilan air lingkuk emas untuk bejanjam. Bejanjam adalah membasuh wajah anah-anak dengan harapan kelak mereka menjadi anak yang saleh. Sedangkan air lingkuk emas diambil dari kaki bukit Batu Layar yang keberadaannya diketahui sebelum zaman Belanda. Sebelum mengambil air ini ada beberapa sesajen yang harus disiapkan yakni penginang pidade yang diisi tokok lekes, jembung kuning tempat ceret, beras kuning, empok-empok dan kejamas. Setelah itu ada proses nguris rambut yakni memotong rambut bayi.

 

2. Makam Loang Baloq & PPH Van Ham

 

Seperti kepercayaan orang Indonesia kebanyakan, makam seringkali menjadi tempat keramat dan mistis. Makam, apalagi jika yang dikuburkan adalah tokoh terkenal dan berpengaruh biasanya akan menjadi tujuan wisatawan religi dan sejarah. Makam Loang Baloq dan PPH Van Ham adalah dua makam yang terkenal di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Namun begitu dua kawasan ini justru mempunyai kisah yang bertolak belakang.

Loang Baloq berasal dari kata dalam bahasa Sasak yang berarti pohon beringin yang berlubang. Ya, area ini memang ditumbuhi sebuah pohon beringin yang konon sudah berumur ratusan tahun. Makam Loang Baloq adalah kawasan pemakaman yang didalamnya terdapat puluhan jasad. Yang menjadi istimewa dan kerap dikunjungi warga adalah makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak, makam Anak Yatim dan Datuk Laut. Syech Gaus Abdurrazak adalah pendakwah Islam dari Baghdad Irak yang menyebarkan Islam di Palembang dan kemudian Lombok sekitar 18 abad lalu. Setelah dari Palembang, ia meneruskan perjalanan dan mendarat di pesisir pantai Ampenan, Mataram. Setelah sampai, ia memberikan petuah-petuah yang bersumber pada ajaran Islam kepada masyarakat setempat.

Makam Syech Gaus Abdurrazak inilah yang berada di lubang tepat di bawah pohon beringin berbentuk persegi panjang dengan lubang ditengah, tempat dimana para peziarah biasanya menaburkan bunga. Untuk masuk kedalam makam yang sudah berkeramik putih ini, peziarah perlu memasuki sebuah pintu masuk. Di samping pintu masuk telah disipakan air untuk pengunjung dan sebuah mushola. Sementara itu, makam Anak Yatim berada di samping bagian luar makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak dengan ukuran yang relatif lebih kecil. Di samping makam ini, terdapat makam Datuk Laut dengan bangunan permanen berukuran 3 x 4 meter berkeramik warna hitam.
 
Makam Loang Baloq


Tidak hanya berziarah, pengunjung yang datang ke kompleks makam ini juga menggelar sejumlah ritual seperti potong rambut anak yang masih balita atau disebut dengan ngurisang. Peziarah biasanya juga menyampaikan nazar dan berdoa di makam agar segera permintaanya segera dikabulkan. Misalnya seperti minta jodoh, panjang umur, sehat dan murah rejeki. Bagi yang menyampaikan nazar tertentu, mereka selalu mengikatkan sesuatu ke akar gantung pohon beringin. Jika nazar mereka dikabulkan, mereka akan kembali lagi ke tempat itu dan membuka ikatan serta membayar nazar yang sudah disampaikan. Tradisi dan kebiasaan ini disebut dengan Saur Sesangi. Kompleks ini ramai dikunjungi warga saat lebaran Idul fitri hingga perayaan lebaran topat, tujuh hari setelah Idul Fitri dan perayaan Maulid Nabi. Kompleks makam Loang Baloq berada di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Ampenan atau sekitar 6 kilometer dari Mataram. Anda dapat dengan mudah menuju tempat ini karena dilalui oleh jalan lingkar Mataram yang sudah beraspal. Anda bisa naik kendaraan umum atau menyewa mobil.

 

3. Makam Maulana Syech TGH. Zaenudin Abdul Madjid

 

Almagfurullah Maulana Syekh Abdul Majid, Pendiri organisasi Nahdatul Wathan.
Lombok adalah sebuah pulau di Nusantara yang berada di sebelah timur pulau Bali. Masuknya Islam ke Lombok sekitar abad ke-14 tidak jauh berbeda dengan daerah sekitarnya, seperti Makasar, Buton, Bone, Sumbawa, dan pulau-pulau lainnya di sekitar Nusa Tenggara. Menurut Raden Itarawan (1998), Islam masuk ke Lombok dibawa oleh Sunan Giri bersama dengan 44 pengikutnya ketika terdampar di desa Bayan yang penduduknya masih menganut paham animisme. Penyebaran Islam di Lombok ditandai oleh peninggalan Masjid "Belek" di Bayan.

Dari sinilah, Islam di Lombok terus berkembang sebagai agama yang dianut oleh masyarakat. Perkembangan Islam di Lombok seiring dengan kemunculan para penyebar Islam (juru dakwah) seperti apa yang penah diajarkan Sunan Giri untuk membebaskan masyarakat dari paham animisme menjadi masyarakat Muslim. Pada gilirannya, lahirlah sosok-sosok ulama Lombok pada awal abad ke-20 yang disebut Tuan Guru yang memiliki pengetahuan agama yang luas untuk meneruskan tradisi dakwah dari para pendahulunya yang telah meninggalkan warisan intelektual yang sangat berharga serta membebaskan masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan akibat kolonialisme Belanda. Misi penyebaran Islam yang dulunya diwakili oleh para Wali Jawa diambil alih oleh Tuan Guru yang dibarengi pula pertumbuhan pondok pesantren yang menyedot banyak pengikut dari segala penjuru dan dari luar pulau Lombok. Perjuangan Tuan Guru diarahkan untuk mensucikan Islam dari unsur-unsur kepercayaan lain dengan menganjurkan kembali pada al-Qur'an dan Hadits sebagai sumber pedoman Islam yang utama.
 

Makam Maulana Syech TGH. Zaenudin Abdul Madjid PANCOR


Dalam konteks ini, muncullah seorang ulama terkenal di Lombok, yakni Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang dilahirkan di Kampung Bermi Pancor, Lombok Timur pada tanggal 17 Rabiul Awwal 1324 H/1906 M. Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin AM dibesarkan di tengah-tengah keluarga religius dan sangat dihormati masyarakat. Berdasarkan penelitian doktoral yang dilakukan Erni Budiawanti (2000), TGH Muhammad Zainuddin AM termasuk salah seorang ulama yang memiliki banyak pengikut di Bayan bersama tuan guru lainnya; yakni TGH Hazmi Azar dan TGH Safwan Hakim. Ayahnya, Tuan Guru Abdul Majid, merupakan tokoh agama dan tokoh maasyarakat yang sangat disegani, dihormati, dan kharismatik. Ayahnya juga dikenal sebagai tokoh pemberani yang pernah memimpin pertempuran melawan kaum penjajah Belanda, Jepang, serta melawan kerajaan Hindu Bali (Karangasem) yang menguasai daerah Lombok.

Sejak kecil, TGH Muhammad Zainuddin AM diakui sangat cerdas, jujur, pandai dan memiliki otak brilian. Tak mengherankan, jika Ayahnya menaruh perhatian yang khusus kepadanya yang diharapkan dapat melanjutkan kepemimpinan ayahnya sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama di Lombok. Pada usia 6 tahun, ia sudah fasih membaca al-Qur'an di bawah bimbingan ayahnya langsung. Pada masa inilah, ia memperdalam ilmu pengetahuan agama secara langsung dari beberapa ulama di sekitar Lombok, yakni TGH Syarafuddin di Pancor dan TGH Abdullah bin Amak Dujali Kelayu Lombok Timur. Di bawah ketiga ulama Lombok inilah, TGH Muhammad Zainuddin AM dibekali pengetahuan agama secara memadai untuk melanjutkan tradisi intelektual yang telah berkembang di Lombok.

Setelah mendapat pengetahuan agama dari ulama-ulama Lombok, TGH Muhammad Zainuddin AM dikirim ayahnya ke Mekah al-Mukarromah. Tepatnya pada usia 17 tahun, ia belajar kepada ulama-ulama Mekah tentang berbagai disiplim ilmu pengetahuan agama selama 12 tahun. Di Masjidil Haram lah, ia mula-mula belajar dengan mendapatkan guru-guru yang sudah ditentukan oleh ayahnya sendiri. Pada tahun 1928, ia melanjutkan studinya di Madrasah Ash-Shaulatiyah yang pada saat itu dipimpin oleh Syaikh Salim Rahmatullah putra Syaikh Rahmatullah, pendiri Madrasah Ash-Shaulatiyah. Madrasah ini adalah madrasah pertama di tanah suci yang banyak menghasilkan ulama-ulama besar. Di madrasah inilah, ia belajar berbagai ilmu pengetahuan agama dengan rajin di bawah bimbingan ulama-ulama terkemuka di kota suci Mekah.

Setelah menimba ilmu di Mekah, TGH Muhammad Zainuddin AM kembali kampung halamannya, Pancor, Lombok Timur untuk mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya di Mekah sekaligus untuk mewujudkan obsesinya melanjutkan kepemimpinan orang tuanya sebagai tokoh agama yang akan menegakkan ajaran-ajaran agama. Langkah pertama yang dilakukannya adalah mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) pada tahun 1934. Madrasah ini khusus diperuntukkan bagi santri pria (Wildan, 1998). Pendirian madrasah ini bermula dari mengumpulkan para pemuda/remaja dalam bentuk halaqah atau majlis ta'lim. Inilah barangkali cikal bakal pendidikan agama di Nusantara selama berabad-abad.

Baru pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H/21 April 1943, TGH Muhammad Zainuddin AM mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang dikhususkan kepada santri perempuan. Kedua madrasah ini merupakan madrasah pertama yang berdiri di Lombok. Pada gilirannya, kedua madrasah ini diabadikan menjadi nama Pondok Pesantren Darun Nahdlatain Nahdlatul Wathan (Wildan, 1998).
Hal ini tentu saja memberikan keyakinan intelektual betapa pesantren telah lama menjadi salah satu bentuk dari pendidikan agama yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak abad ke-13 atau sebelum datangnya penjajah Barat dari berbagai penjuru daerah, termasuk di Lombok. Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan swasta sudah sejak lama mempunyai diversifikasi dalam berbagai cabang keilmuwan (Karel A. Steenbrink, 1986) Pendidkan Jaringan Intelektual

TGH Muhammad Zainuddin AM memiliki jaringan intelektual yang luar biasa, terutama silsilah guru-guru yang didapatinya selama di Mekah al-Mukarromah. Jaringan ini mencerminkan betapa luasnya pengembaraan mencari ilmu dan matangnya keilmuwan TGH Muhammad Zainuddin AM. Silsilah keilmuwan yang diperolehnya tidak dalam satu mata rantai dalam setiap cabang keilmuwan, melainkan beberapa guru yang memiliki kemampuan dan pengetahuan agama yang luas.

Tarikh akhir 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa, 21 Oktober1997 M/20 Jumadil Akhir 1418 H, sang ulama karismatis, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 Wita di kediaman beliau di desa Pancor, Lombok Timur. Tiga warisan besar beliau tinggalkan: ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan manca negara.

 

4. Makam Raja Selaparang

 

Setiap lokasi wisata religi biasanya punya mitos yang dipercaya oleh pengunjung. Begitu juga yang terjadi di Makam Selaparang. Masyarakat setempat percaya bahwa jika kita yang masih lajang berkunjung ke sini niscaya kita akan cepat mendapatkan jodoh. Tertarik ingin membuktikannya?

Keberadaan Makam Selaparang sangat lekat dengan keberadaan Kerajaan Selaparang di abad 13 dan 16 lalu. Kerajaan Selaparang pertama adalah kerajaan Hindu dan kekuasaannya berakhir dengan kedatangan ekspedisi Kerajaan Majapahit pada tahun 1357. Kerajaan Selaparang kedua adalah kerajaan Islam. Dalam sejarah, Kerajaan Selaparang tergolong kerajaan yang tangguh, baik armada laut dan daratnya. Laskar lautnya bahkan pernah mengusir Belanda yang hendak memasuki wilayah tersebut sekitar tahun 1667-1668 Masehi. Kerajaan Selaparang pernah dua kali terlibat dalam pertempuran sengit melawan Kerajaan Gelgel, yakni sekitar tahun 1616 dan 1624 Masehi.
 
Makam Selaparang


Makam Selaparang berada di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, tepatnya di kecamatan Swela sekitar 65 km dari kota Mataram. Jika Anda menyewa mobil, perjalanan akan memakan waktu sekitar 1 jam. Selama perjalanan, kita akan disuguhi banyak sekali pemandangan indah termasuk pegunungan Rinjani yang memesona. Untuk masuk ke lokasi makam, kita harus membayar tiket seharga Rp. 5 ribu per orang. Kita juga harus mentaati segala peraturan di lokasi ini, yakni dilarang memotret, harus mengenakan baju yang sopan, melepas alas kaki dan bagi yang sedang menstruasi tidak boleh masuk ke area makam. Komples Makam Selaparang ramai dikunjungi peziarah pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang musim keberangkatan jamaan haji dan beberapa waktu khusus lainnya. Tradisi ziarah ke Makam Selaparang masih lestari hingga sekarang. Ada tiga makam yang banyak dikunjungi di kompleks Makam Selaparang yakni makam Raja Selaparang, makam orang tua Raja Selaparang dan makam panglima Gajah Mada. Di ketiga makam ini, pengunjung sering menaburkan bunga dan membasuh muka dengan air yang telah seediakan. Dengan membasuh muka ini diyakini bagi yang masih lajang akan cepat mendapat jodoh. Jejak-jejak keislaman di makam ini adalah di nisan salah satu makam bertuliskan huruf Arab dan huruf yang merupakan peralihan huruf Jawa kuno ke huruf Bali yang terdiri atas lima baris dan terpahat dalam bentuk relief timbul yang berbunyi “La ilaha ilallah, wa muhammadun radul, ulla, maesan, gegawean dan parayuga”.

Pada mulanya makam ini dibangun ketika salah satu raja atau wali Selaparang diburu oleh Belanda. Ketika itu raja tersebut menerobos dinding masjid yang berada di samping makam dan menghilang disana. Atas dasar itulah makam ini kemudian dibangun. Di kompleks ini dulunya terdapat perpustakaan, namun oleh Belanda buku-bukunya dimusnahkan. Di perpustakaan inilah terdapat sejarah Kerajaan Selaparang saat itu.

Jika ingin mengetahui lebih banyak tentang sejarah Kerajaan Selaparang, Anda bisa sekali ke Desa Ketangga yang masih berada di Kecamatan Swela. Desa itu termasuk desa tertua dan menyimpan benda-benda pusaka Kerajaan Selaparang. Desa ini menyimpan misteri dan memiliki cagar budaya yang cukup banyak, seperti masjid pusaka Selaparang, batu dari Irak (Baghdad) dan sabuk yang bertuliskan sejarah manusia sejak lahir hingga masuk alam akhirat. Tidak itu saja, pengunjung juga bisa menemukan Al Quran bertulis tangan, perisai yang terbuat dari kulit, keris dan masih banyak yang lain.

 

5. Makam Wali Nyatoq

 

Di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, atau 49 km dari kota Mataram, terdapat sebuah makam yang cukup istimewa. Makam Wali Nyatoq, demikian namanya. Makam ini terletak tidak jauh dari masjid tua Rembitan. Bagi masyarakat Lombok Tengah, Wali Nyatok telah menjadi bagian penting dari kehidupan mereka karena berjasa dalam penyebaran agama Islam di sana, sehingga makamnya memiliki makna spiritual yang luar biasa.

 

Warga masyarakat yang datang ke sana selain untuk nyekar, juga minta keselamatan dan kesembuhan dari penyakit. "Jika kita ada niatan dan ikhlas, pasti dikabulkan. Percaya atau tidak, banyak yang telah menjadi kenyataan. Ini memang hal yang secara rasional sulit dipercaya. Karena itu banyak warga yang mempercayainya berduyun-duyun datang ke makam khususnya pada hari Rabu menjelang bulan Maulid," (Yang Biasa Aku Liat)


Mereka yang berkunjung tidak hanya dari Lombok, melainkan juga datang dari Jawa. Informasi itu sendiri di samping diperoleh dari mulut ke mulut, juga atas petunjuk spiritual. Dalam kaitan kunjungan pada hari Rabu, memang menjadi buah bibir masyarakat. Namun konon, hari Rabu adalah hari baik di mana Wali Nyatoq memberikan berkahnya secara utuh. Beberapa warga mengaku pernah ada wangsit dari Wali Nyatoq yang menyebutkan bahwa dia ada pada hari itu. Akhirnya, kebiasaan berkunjung pada hari Rabu terus terpelihara.

 

Makam Wali Nyatoq

 

Air makam Wali Nyatok pun dikeramatkan, sehingga acapkali dipakai sebagai sarana untuk mengungkap suatu kasus meresahkan yang terjadi di desa itu. Misalnya saja jika ada warga yang kecurian, kemudian ada seseorang yang dicurigai, orang itu langsung digelandang ke makam Wali Nyatoq untuk disumpah. Di sana, di hadapan warga, orang itu akan diminta meminum air tanah tersebut. Mereka yang merasa mencuri, tidak akan bersedia meminumnya karena akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya.


Bisa dibilang, makam Wali Nyatoq sangat diistimewakan masyarakat setempat. Seperti Yang Biasa Aku Liat makam tersebut identik dengan keberadaan masjid tua Rembitan -- yang usianya diduga mirip dengan masjid tua Bayan dan masjid tua Pujut. Fondasi bangunan masjid dari tanah. Namun gambaran yang khas dari masjid itu adalah tali-temalinya menggunakan bahan ijuk dan tali saot -- sejenis akar gantung pada tumbuhan hutan. Sedangkan tali pengikat atap alang-alang disebut male.


Abad Ke-16
Masjid tua Rembitan dengan bentuk atap tumpang dan tanpa serambi itu diperkirakan dibangun pada abad ke-16. Babad Lombok menyebutkan bahwa agama Islam masuk ke Lombok dibawa Sunan Prapen, putra Sunan Giri dari Gresik. Dibangunnya Masjid Rembitan itu sering dihubungkan dengan tokoh penyebar agama Islam di daerah Rembitan Wali Nyatoq.


Wali Nyatoq merupakan penyebar Islam yang masuk ke kawasan selatan Lombok Tengah di mana masyarakat semula merupakan pemeluk animisme. Dalam menyebarkan Islam, Wali Nyatok pun mengimplementasikannya dalam kegiatan sehari-hari lewat tingkah laku yang baik.


Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, pada saat Wali Nyatoq meninggal dunia, jenazahnya ditandu. Konon begitu akan dikuburkan, jasadnya menghilang. Yang tinggal hanya kain kafan dan keranda yang kemudian dimakamkan. Begitu kuatnya keterikatan masyarakat dengan tokohnya itu membuat hubungan masyarakat dengan makam tersebut tidak bisa dipisahkan. Karena itu, tidak ada seorang pun yang berani menggugat keberadaan makam itu.


Seperti waktu Itu, Sepulang Aku Dari Sekolah, H. Subhakti, tewas mengenaskan di tangan massa. Pasalnya, Subhakti diduga telah merusak makam Wali Nyatoq karena berupaya melakukan pembongkaran. Konon, Subhakti hanya ingin mengungkap tabir di balik keajaiban yang sering terjadi pada makam tersebut. "Memang sudah menjadi kepercayaan masyarakat, barangsiapa yang berani mengusik makam keramat ini sudah jelas nyawa taruhannya. Apa pun alasannya sulit diterima secara rasional,"( Seperti Itulah Kata " Masyarakat Rembitan Pujut)

 

6. Makam Bintaro Ampenan

 

PENYEBARAN agama Islam di NTB, khususnya Lombok telah dilakukan sejak dahulu. Tetapi, dalam implementasinya ajarannya masih belum sempurna, karena masih tercampur dengan tradisi yang ada.

Makam Bintaro yang berada di Jalan Saleh Sungkar, Bintaro, Ampenan, Mataram, merupakan makam para Habib yang datang untuk menyempurnakan ajaran Islam di Lombok. Dari papan informasi yang dipasang Pemkot Mataram, jika Makam Bintaro merupakan makam dari Habib Husen Bin Umar Mashur, Syarifah Zahra Al Habsy, dan Syech Abdullah Al Badawi yang meninggal tahun 1880. Ketiganya merupakan para habib yang berasal dari Yaman Selatan yang datang tahun 1865 dan menetap di lingkungan Telaga Mas Kampung Arab Ampenan.

Nurrahman, penjaga Makam Bintaro, menuturkan jika Habib Husen Bin Umar Mashur dan Syarifah Zahra Al Habsy merupakan pasangan suami istri. “Jadi makamnya berderet begitu, sedangkan makam Syech Abdullah Al Badawi sendiri dia,” terangnya saat ditemui Ekbis NTB,

 

Makam Bintaro Ampenan


Makam para habib ini berada di sebuah bangunan di mana makam ketiganya dibuat paling besar dan diberi kain penutup. Juga terdapat belasan makam lainnya di dalam makam tersebut. “Kalau yang itu makamnya tidak ada namanya,” jelas Nurrahman.

Selain makam para Habib, di Makam Bintaro juga terdapat makam Saleh Sungkar yang berada di selatan bangunan makam Habib. Makamnya diberi penutup kain putih dan dibuat agak tinggi dibanding makam sebelahnya.

Nurrahman menjelaskan Saleh Sungkar dulunya merupakan Datu Ampenan yang terkenal dengan kepintarannya. “Tetapi ada temannya yang iri sama dia, jadi Saleh Sungkar dibunuh sama temannya itu. Tidak salah dia dibunuh di sekitaran Narmada dulu,” katanya. Makam Saleh Sungkar bertahun tahun 1952. “Di sebelah kirinya ini makam istrinya Saleh Sungkar. Kalau keturunannya di luar Lombok saja tempatnya,” terangnya.

Makam Bintaro ini, kata Nurrahman, bisa dikunjungi setiap harinya. “Tetapi paling ramai setiap hari minggu. Pengunjungnya datang dari seluruh Lombok,” katanya. Makam ini juga biasanya dikunjungi oleh calon jamaah haji yang sebelum berangkat akan berziarah ke makam ini. Fasilitas makam Bintaro ini sendiri cukup bagus, karena tersedia tempat parkir yang luas dan posisinya yang berada di samping jalan utama Senggigi memberikan kemudahan akses bagi pengunjung. Di sini juga tersedia lapak pedagang yang sudah disediakan oleh Pemkot Mataram, sehingga pengunjung bisa membeli kebutuhannya.

 

7. Makam Wali Ketaq

 

Makam ketaq adalah pemakaman Tuan Guru Lalu Moh Soleh yang dijuluki Datuk Lopan yang dulunya memiliki pengaruh besar terhadap sejarah masyarakat Lombok. Konon memiliki sejarah panjang perjuangan para wali dalam memperjuangkan ajaran islam yang ada di pulau Lombok. Beliau meninggal dunia Tahun 1361 H ( 1942 M ) dalam usia 132 Tahun. Dan dimakamkan di pemakaman ketaq. Makak ketaq terletak di Dusun Lopan, Desa Monggas, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.

Makam ketak menjadi salah satu wisata religi di Kab. Lombok Tengah. Dari dulu sampai sekarang, makam ketaq tetap ramai pengunjung. Berziarah ke makam merupakan salah satu hal yang sudah ada sejak dulu sampai sekarang. Berziarah ke makam ketaq membuat kita tetap mengingat mati dan memngingat atau mengenang orang- orang yang yang dulunya berpengaruh dalam sejarah perkembangan islam di tempat kita.
 

Makam Ketak


Makam ketaq ramai dikunjungi oleh masyarakat khususnya masyarakat lombok tengah untuk berziarah. Jelang lebaran, makam ketak ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk rekreasi atau berwisata. Selain rekreasi dan berwisata, pengunjung datanng berziarah ke makam ketaq untuk berdo’a. Masyarakat yang datang untuk berdo’a, melakukan do’a bersama dengan keluarga di dalam kuburan Tuan Guru atau Datoq Lopan. Mereka percaya bahwa, dengan memanjatkan do’a di makam orang sholeh , maka do’a mereka akan cepat dikabulkan dan tuan guru atau datoq lopan yang sudah meninggal akan ikut mendo’akannya.

Setelah berdo’a, mereka mencuci muka dengan air yang dicampur dengan kembang atau biasa disebut oleh orang lombok tengah dengan sebutan Rampe sebagai pelengkap. Pengunjung yang datang ziarah ke makam ketaq dari berbagi daerah. Masing- masing memiliki cara dan kepercaaan yang berbeda, tapi dengan tujuan yang sama.

 

-o0o- 

 

     

 

LOMBOK TRAVEL ONLINE ( LTO Tours )

Jl. Raya Senggigi Km. 12 Desa Senggigi Kec. Batu Layar

 Mataram -  Lombok Barat - NTB - Indonesia

Telpon / Fax : 0370-640380 - 693950

 HP/SMS/WA : +62(0)81.237.812.222 - 081.998.998.777 (24 Jam Online)

Website : http://www.lombok-travel.com

Email: lomboktravel@gmail.com

Copyright © 2007,  Hak cipta di lindungi Undang Undang | LTO Tours